Menanti Sebuah Rakit di Malam Tahun Baru
Menanti Sebuah Rakit di Malam Tahun Baru Malam tahun baru kali ini terasa berbeda. Ada yang kurang. Ini semua karena hujan yang terus-menerus turun sehingga air di sungai Biru meluap. Akibatnya aku tidak dapat bertemu dengan dia. Rakit. Cinta kami bersemi melalui rakit yang kami naiki setiap harinya. Aku tidak akan menjalin cinta dengan Dimas jika saja aku menolak membantu ibu untuk mengantarkan kue pesanan ke desa seberang sungai. Sungguh manis jika mengingat pertemuan kami saat itu. “Mbak, boleh minta kuenya nggak?” ujar lelaki di sebelahku suatu ketika di atas rakit. “Buat apa? Ini kue pesanan langganan ibu saya. Nanti kalau berkurang satu, jadi saya yang kena marah.” jawabku polos. “Saya beli deh. Nanti saya bayar dua kali lipat.” ujarnya ngotot. “Tapi …” “Saya belum makan lho Mbak dari tadi pagi. Please , Mbak …” kali ini wajahnya memelas. “Udah, kasih aja Neng.. Kasihan dia belum makan. Nanti kalau dia mati kelaparan, Neng yang disalahkan lho.” ujar bapa...