Menanti Sebuah Rakit di Malam Tahun Baru
Menanti
Sebuah Rakit di Malam Tahun Baru
Malam
tahun baru kali ini terasa berbeda. Ada yang kurang. Ini semua karena hujan
yang terus-menerus turun sehingga air di sungai Biru meluap. Akibatnya aku
tidak dapat bertemu dengan dia.
Rakit.
Cinta kami bersemi melalui rakit yang kami naiki setiap harinya. Aku tidak akan
menjalin cinta dengan Dimas jika saja aku menolak membantu ibu untuk
mengantarkan kue pesanan ke desa seberang sungai. Sungguh manis jika mengingat
pertemuan kami saat itu.
“Mbak,
boleh minta kuenya nggak?” ujar lelaki di sebelahku suatu ketika di atas rakit.
“Buat
apa? Ini kue pesanan langganan ibu saya. Nanti kalau berkurang satu, jadi saya
yang kena marah.” jawabku polos.
“Saya
beli deh. Nanti saya bayar dua kali lipat.” ujarnya ngotot.
“Tapi
…”
“Saya
belum makan lho Mbak dari tadi pagi. Please,
Mbak …” kali ini wajahnya memelas.
“Udah,
kasih aja Neng.. Kasihan dia belum makan. Nanti kalau dia mati kelaparan, Neng
yang disalahkan lho.” ujar bapak penjaga rakit di depanku.
“Kok
malah saya yang disalahkan, Pak? Kan bukan saya yang bunuh dia.” aku menyolot.
“Kalau
dia mati kelaparan, pasti Neng yang disalahkan. Seharusnya dia nggak mati kalau
Neng ngasih kue itu. Trus Neng nanti bisa dijadikan saksi sekaligus terdakwa”
tambah Bapak itu mendramatisir cerita.
“Lho,
kok malah lebay gitu sih, Pak? Iya
dech, aku kasih kamu kue ini. Tapi kamu harus bertanggungjawab ke Ibu masalah
kue ini ya?”
“Beres…
Nanti aku yang ngomong langsung ke Ibu kamu ya.”
Begitulah
awal perkenalan kami yang unik. Cinta kami bersemi di rakit. “Hmm… Jadi ingat Dimas. Sedang apa dia
sekarang, ya?”
“Dooorrr
…!!”
“Ya
ampun… Ibu ngagetin aja, deh. Jantungan jadinya bu.” Ujarku sewot.
“Yee…
Sapa suruh ngelamun. Daripada ngelamun, lebih baik bantuin Ibu bikin adonan
kue.” Jawab Ibu.
“Lho,
Ibu lupa ya? Kita kan nggak bisa ngantar pesanan karena sungainya lagi meluap?
Jadi Ibu mau minta Neng antar kue ke mana lagi?
“Oh,
iya.. Ibu lupa. Hehehe… Udah tiga hari ya Neng sungainya nggak bisa dilewati.”
“Iya
bu. Makanya itu Neng jadi sedih…”
“Kamu
memang anak yang baik Neng. Pasti kamu sedih karena nggak bisa bantu ibu
ngantar pesanan kue, kan?” cerocos Ibu.
“Yah
Ibuuu… Bukan itu lho, Bu…”
“Lho,
jadi apa lagi, Neng?”
“Neng
sedih karena nggak bisa jumpa Dimas nanti malam.” curhatku.
“Lho,
baru aja tiga hari nggak ketemu. Lagian kalian kan bisa telponan.”
“Bukan
gitu ibu Neng yang cantik… Masalahnya malam tahun baru nanti memperingati hari
jadian Neng sama Dimas selama satu tahun. Selain itu Neng juga ulang tahun pas
tahun baru nanti. Masa’ Ibu lupa sich sama ulang tahun Neng?”
“Ooohh,
gitu toh. Kan bisa dirayain besoknya Neng, tunggu sungainya nggak meluap lagi.”
kata Ibu masih belum paham.
“Yah,
mana seru lagi Bu.. Istilah anak muda sekarang ya Bu, ‘udah basi’.” terangku
kepada Ibu.
“Memang
ya anak muda zaman sekarang, adaaa aja istilahnya. Bapak sama Ibu waktu pacaran
aja nggak gitu-gitu amat. Malah Bapak sama Ibu jumpanya sekali dalam setahun.
Bapak Neng kan dulu merantau ke Sumatera, jadi ketemunya waktu lebaran aja, pas
Bapak lagi pulang kampung.” cerita Ibu sambil berseri-seri.
“Yang
benar aja Bu jumpanya cuma sekali dalam setahun. Apa nggak mati karena rindu
Bu?”
“Neng,
cinta itu semakin indah kalau ada rasa rindu. Semakin besar rasa rindu itu, maka
semakin menggebu-gebu pula cinta kita” ujar Ibu berfilosofi.
Benar
juga apa kata Ibu. Mungkin kalau tiap hari ketemu, indahnya rasa rindu nggak
akan terasa.
“Yee..
Dia malah melamun. Ya udah, mending Neng tidur deh. Jangan lupa berdoa
mudah-mudahan hujannya berhenti dan sungainya nggak meluap, jadi Neng bisa
ketemu Dimas deh…” nasihat Ibu.
“Iya
Bu… Ibu juga tidur ya. Jangan lupa berdoa agar hujannya berhenti dan kita bisa
jualan kue lagi.” aku balik menasihati Ibu.
Ibu
hanya menjawab dengan senyuman dan meninggalkan kamarku.
Aku
beranjak tidur dan berusaha memejamkan mata. Sulitnya mencoba tidur di saat
seperti ini. Aku menghubungi Dimas beberapa kali. Tapi hanya jawaban dari
operator yang terdengar. Cuaca yang buruk juga mengakibatkan gangguan sinyal di
desa Dimas. Sedih bercampur galau. Besok adalah satu hari sebelum tahun baru.
Jadi, intinya besok adalah tanggal 31 Desember dan malamnya adalah malam tahun
baru. Mengingat kabar dari Dimas belum terdengar juga, membuatku semakin sedih.
Kriiiingggg …
Suara
jam weker di meja membangunkanku. Udah jam setengah enam. Aku beranjak dengan
malas dari tempat tidur. Aku menatap
jendela, berharap hujan telah berhenti mengguyur. Betapa senangnya aku melihat
hujan telah reda. Akhirnya.. Setelah
empat hari mengguyur beberapa desa, akhirnya hujan lelah juga turun dari
langit. Aku mandi dengan bersemangat. Berharap hari ini cuaca menjadi lebih
baik dan aku dapat bertemu dengan Dimas.
Aku bernyanyi dan mengganti lirik lagu dengan nama Dimas. Ibu heran melihatku
yang secepat itu berubah dari galau menjadi gembira. Tidak apalah. Kalau hati
senang, maka orang lain juga tertular deh dan semua tampak bahagia. ‘Sok bijak’
nih, hehe..
Aku menghabiskan waktu seharian dengan
merawat diri. Rutinitas perempuan jawabku ketika Ibu bertanya kenapa aku begitu
lama di kamar mandi. Luluran, creambath,
maskeran. Itu yang bisa kupersiapkan jika nanti Dimas datang menemuiku.
Senja
telah tiba. Aku melihat ibu menghampiriku dari depan pagar.
“Neng,
Ibu ada berita penting” kata Ibu tergopoh-gopoh.
“Duduk
dulu, Bu. Ibu darimana sih seperti habis lihat hantu gitu.” tanyaku heran.
“Itu
Neng…” jawab Ibu semakin membuatku penasaran.
“Apa
sih, Bu? Ibu ngebuat Neng penasaran aja dech.” kataku sabar dan hampir aja
kesal.
“Sungai
semakin meluap dan hampir naik ke bantaran, Neng. Diperkirakan desa ini bisa
banjir kalau hujan turun malam ini”. Ibu bagaikan seorang reporter televisi
yang berbicara di depanku.
“Tapi
Bu.. Bukannya hari ini cuacanya cerah dan nggak ada hujan sama sekali?” tanyaku
masih tidak percaya.
“Bukan
itu masalahnya, Neng. Akibat hujan yang turun beberapa hari ini mengakibatkan
sungai meluap dan tinggi air semakin melewati bantaran sungai. Jadi kita harus
siap-siap kebanjiran jika malam ini turun hujan.” kata Ibu meyakinkanku.
“Nggak.
Neng nggak percaya. Neng mau lihat sendiri. Neng mau nunggu Dimas datang
ngerayain ulang tahun dan hari jadian kami”. Aku melangkah ke luar pagar namun
langkahku ditahan oleh Ibu.
Lelah
dan frustasi, aku berlari ke dalam kamar. Kutumpahkan air mata dan kubenamkan
wajah ke bantal. Setelah puas, aku tertidur. Aku bermimpi Dimas ditemukan tak
bernyawa lagi karena hanyut terseret arus sungai. Aku menangis histeris melihat
tubuh kaku Dimas yang telah berjuang menaiki rakit untuk menemuiku di malam
tahun baru.
“Dimaaaasss…”
aku terbangun dari mimpi.
Ibu
berlari menghampiriku dan menanyakan apa yang telah terjadi. Aku menjawab
pertanyaan ibu dengan tangisan.
“Dimas,
Bu. Hiks…, hiks…” aku terisak di bahu Ibu.
“Kenapa
sayang? Ada apa dengan Dimas?” tanya Ibu mencoba menenangkanku.
“Neng
mimpi kalau Dimas meninggal, Bu. Huhuhu… ” tangisku semakin menjadi.
“Hush..
Udah sayang.. Dimas baik-baik aja kok. Neng tadi cuma mimpi karena terlalu
mikirin Dimas. Sekarang Neng minum dulu ya..” ibu menyodorkan segelas air
putih.
Setelah
merasa tenang, aku meyakinkan Ibu agar membiarkanku sendiri di kamar. Ibu pun
pergi meninggalkanku sebelum mengingatkan makan malam sebentar lagi.
Aku
takut. Aku takut mimpiku menjadi kenyataan. Apalagi sampai sekarang handphone Dimas tidak bisa dihubungi.
Aku khawatir dengan keadaan Dimas. Suara ibu luar kamar mengejutkanku. Ibu
menyuruhku keluar kamar untuk makan bersama. Aku melangkah gontai menuju ruang
makan. Sungguh aku tidak merasa lapar dan tidak ingin makan untuk saat ini.
Tapi melihat wajah Ibu yang memintaku makan, aku tidak tega.
Setelah
makan dengan porsi sedikit, aku mencuci piring dan tiba-tiba Ibu memanggilku.
Ibu mengatakan ada telepon untukku. Aku setengah berlari menuju ruang tengah
berharap Dimas yang menghubungi.
“Halo
…”
“Halo..
Ini Neng ya?” tanya suara di seberang.
“Iya.
Maaf ini siapa?” tanyaku kecewa karena bukan Dimas yang menelepon.
“Saya
ingin memberitahukan kabar tentang Dimas.”
“Ada
apa dengan Dimas?” tanyaku khawatir.
“Dimas
kecelakaan. Nyawanya tidak dapat diselamatkan. Sekarang almarhum sedang berada
di rumah duka.” tiap kata yang terdengar bagaikan suara peluru yang ditembakkan
ke kepalaku. Aku pusing dan lututku lemas.
“Tidak.
Tidak mungkin Dimas pergi.” teriakku tidak percaya.
“Ini
benar, Neng. Saya hanya ingin menyampaikan berita tersebut dan memberikan
bingkisan dari orang tua Dimas. Katanya Dimas kecelakaan sepulang dari membeli
bingkisan buat Neng.” Kata suara di seberang semakin menambah keterkejutanku.
“Tidak
mungkin. Kamu pasti bohong kan?” air mataku tak terbendung lagi.
“Terserah
Neng kalau tidak percaya. Saya tunggu sekarang di pangkalan rakit untuk
memberikan bingkisan ini.” Tegas suara itu lagi.
“Tapi
… Halo …” terdengar pemutusan sambungan dari seberang.
Aku
berlari menuju bantaran sungai. Tak peduli dengan pandangan Ibu yang penuh
tanya. Aku berlari sambil menangis dan membuat orang-orang di sekitarku
penasaran.
Aku
tiba di bantaran sungai tapi tak ada satu orang pun di sana. Mataku mencari
berkeliling. Aku menatap ke seberang sungai menunggu tanda-tanda kemunculan
seseorang. Aku merasa dipermainkan. Tapi karena penasaran, aku memutuskan untuk
menunggu si penelepon gelap tersebut.
Karena
melamun, aku tidak sadar akan munculnya sebuah rakit di hadapanku. Lampu
warna-warni yang membentuk tulisan ‘Happy
Anniversary’ di tengahnya membuatku mencari tahu siapa lelaki yang ada di
rakit tersebut. Dari kejauhan aku dapat melihat postur tubuhnya yang mirip
Dimas. Tapi wajahnya belum terlihat jelas karena cahaya lampu di sekelilingnya.
Tak sabar rasanya menantikan rakit tersebut sampai di depanku. Sekitar satu
menit menyeberang, rakit tersebut tiba di hadapanku. Tapi lelaki di atas rakit
tersebut tidak turun juga. Aku kesal dan naik ke atas rakit. Kubalikkan badan
lelaki tersebut dan ternyata benar, itu adalah Dimas.
“Ya
ampun Dimaaasss… Kamu apa-apaan sich buat gini segala?” tanyaku geram.
“Happy anniversary sayang…” ujarnya
sambil menyodorkan sebuket bunga mawar merah.
“Kamu
ya, bukannya jawab pertanyaanku” ujarku sambil mencubitnya gemas.
“Bagaimana
menurut kamu ‘My Sweetie’? Surprise banget kan?” tanya Dimas tanpa
merasa bersalah.
“Menurut
aku kamu itu menyebalkan tahu nggak sich?” ucapku pura-pura ngambek.
“Menyebalkan
tapi kamu suka kan?” balas Dimas sambil tersenyum nakal.
“Udah
ah, nggak usah senyum-senyum. Nggak lucu” kataku sambil menahan senyum.
“Ya
udah, sekarang kita pulang, yuk. Kasihan Ibu khawatir nungguin kamu.” bujuk
Dimas.
Astagaaa…
Aku baru ingat meninggalkan rumah tanpa pamit terlebih dahulu. Pasti Ibu
khawatir. Aku menatap ke bawah dan baru sadar bahwa aku tidak
memakai sendal. Pantas saja orang-orang menatapku dengan aneh tadi. Rasa malu,
kesal, marah, senang, rindu, sayang, semuanya bercampur menjadi satu. Sungguh
kejadian ini tak akan terlupakan.
Ketika
akan berbalik, aku mendapat kejutan lagi. Kali ini Dimas yang bekerja sama
dengan anggota keluarga untuk merayakan ulang tahunku.
“Surprise….” serentak kudengar suara Ayah
dan Ibu dengan wajah iseng.
Mereka
menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun sambil membawa cake yang bertuliskan “Happy
Birthday Sayang”. Setelah meniup make
a wish dan meniup lilin, aku disuruh memotong kue.
“Tunggu
dulu” ucapku sebelum memotong kue.
“Ada
apa, Sayang?” tanya Ibu bingung.
“Neng
kan belum saatnya ulang tahun. Neng ulang tahunnya tanggal 1 Januari. Ini masih
tanggal 31 Desember.” kataku yakin.
Serentak
mereka tertawa mendengar perkataanku.
“Hahahaha….
Neng, Neng… Kamu ini lucu ya..” kata Ayah.
“Lho,
kenapa Yah?” tanyaku heran.
“Coba
kamu lihat ini jam berapa? Ini kan udah jam 12.16. Jadi sekarang udah tanggal 1
Januari.” jawab Ayah masih geli melihat tingkahku.
Aku
melirik jam kemudian tersenyum. Pantas saja suara kembang api untuk menyambut
tahun baru ramai terdengar.
“Makanya,
jangan terlalu mikirin aku sayang” ujar Dimas dari sebelahku.
Ibu
dan Ayah tertawa. Aku jadi malu sendiri dan pura-pura ngambek.
“Udah,
udah. Sekarang kita lanjut ke acara pemotongan kue.” kata Ayah mencairkan
suasana.
“Ayo
sayang. Setelah itu kami nyuapin Neng dan harus difhoto ya.” sambung Ibu.
Aku
terkejut melihat ada Farah, temanku yang telah menjadi ‘fotografer mendadak’ di
acara ini. Ketika kutanyakan, ternyata Farah sudah dari tadi mengambil fhotoku.
Aku tidak sadar Farah mengambil fhotoku dari kejauhan mulai dari menunggu rakit
yang membawa Dimas datang.
Setelah
selesai sesi fhoto-fhoto, makan kue, dan menyerahkan kado, Dimas meminta izin
untuk pulang. Ibu mengajak Dimas tidur di rumah karena khawatir hari sudah
menjelang dini hari, tapi Dimas berkata tidak apa-apa karena dia pulang
bersama-sama beberapa temannya. Sedangkan Farah menginap di rumah dan tidur di
kamarku.
Aku
membuka beberapa kado sebelum tidur. Dimas memberikan video tentang kenangan
kami selama satu tahun belakangan dan boneka beruang.
Aku
tersenyum mengingat betapa kacaunya perasaanku beberapa hari ini yang kemudian
berakhir indah.
Percayalah …
Hanya dirimu yang peling mengerti
Kegelisahan jiwamu kasih
Dan arti kata kecewamu
Kasih yakinlah …
Hanya aku yang paling memahami
Besar arti kejujuran diri
Indah sanubarimu kasih
Percayalah …
Lagu
Bahasa Kalbu mengalun merdu. Terima kasih Tuhan. Terima kasih rakitku telah
membawa cinta yang indah. Happy first anniversary
sayang, selamat ulang tahun Neng, selamat tahun baru seluruh dunia..
Komentar
Posting Komentar