Petunjuk bagi Kekeliruan Orang Tua Masa Kini
Oleh : Geti Oktaria Pulungan
Judul
buku :
Menemani, Bukan Memarahi
Mendampingi Anak Menjadi Dirinya Sendiri
Penulis
: Ichiro Kishimi
Tahun :
2024
Penerbit :
Gramedia Pustaka Utama
Alih
Bahasa : Almadiva Raissa
Penyunting :
Adella Christabel
Penyelia
aksara : Niken Rachmadi
Jumlah
Halaman : 141 halaman
Menemani, Bukan Memarahi, buku ini
sudah memiliki daya pikat melalui judul. Konsep pengasuhan anak masih banyak
dengan cara “memarahi”. Sejatinya konsep tradisional tersebut dapat mengikat generasi
yang menjadi calon orang tua. Individu yang mengusung pola asuh demikian menganggapnya
lebih efektif. Secara singkat, memang benar anak-anak akan patuh dan menurut. Namun,
sesungguhnya tidak semua anak nyaman diperlakukan demikian.
Buku yang ditulis oleh sosok yang
lahir di Kyoto pada tahun 1956 ini sangat berani untuk menwarkan pola asuh yang
lebih efektif. Tak dapat disangkal bahwa beliau sudah berusia yang telah menelan
banyak asam garam kehidupan. Jika melihat usianya berkisar 66 tahun
tatkala buku ini meluncur di Jepang, ia benar-benar menyesuaikan pengalaman,
teori dan praktik yang relevan. Ia juga bersikap adil dengan perkembangan
kehidupan sebagai orang tua masa sekarang dan dahulu. Tak sia-sia judul yang ia
tawarkan bertanggung jawab dalam kualitas isi buku.
Nyatanya, penulis dengan karya-karya best
seller ini tak pernah gagal memikat hati pembaca. Bahasa yang penulis
gunakan cukup sederhana dan mudah dimengerti. Pembahasan ysang singkat pun tak
urung menghempaskan rasa bosan pembaca. Melalui konsep ini jugalah penulis
berusaha bukunya dapat diterima pada berbagai kalangan. Artinya, semua usia,
gender, suku, ras tidak merasa buku tersebut terlalu berat untuk dibaca. Kalimat
yang ringan pun sungguh tak ada kesan menggurui ataupun memaksa pembaca. Melalui
hal tersebut, beliau berhasil memberikan sugesti positif melalui enam bab di
dalamnya.
Kesimpulan pada setiap pembahasan dapat
bermaksud sebagai penekanan maksud tertentu. Namun, lagi-lagi tidak ada kesan
memaksakan di sana. Malah pembaca menyukai bagian tersebut sebagai ringkasan
penting yang dapat saja menjadi sebuah “status di sosial media.”
Bayangan masa lalu akan terputar dalam
ingatan seseorang ketika membaca buku ini. Intervensi, pujian, percaya diri,
bahkan kemandirian dikupas habis dalam buku ini. Buku ini mengajak kita
bertukar peran dengan posisi anak? Sudikah kita menerima perlakuan demikian?
Tak hanya menjelaskan larangan terhadap
anak, buku ini juga memberikan solusi. Penulis tentu tak ingin membiarkan
pembaca kebingungan dan melakukan uji coba sendiri. Banyak sekali jalan keluar
yang ditawarkan. Meskipun lagi-lagi solusinya bukanlah sesuatu yang rumit,
namun tentu efektif bagi semua kalangan. Lebih baik mencoba daripada tidak sama
sekali, bukan? Yakinlah, solusi yang rumit hanya akan berhasil menjadi teori
saja.
Banyak sekali kalimat istimewa dalam buku
ini. Saya akan mengutip tiga kesimpulan yang tertera pada halaman 124:
1. Kerap
kali orangtua tidak bisa melihat anak apa adanya.
2. Orangtua
melihat “makna” dalam fakta-fakta dari perlaku anak sebelumnya.
3. Jangan
hanya percaya kepada anak saat ada alasan. Percayalah tanpa syarat.
Begitu membaca kelimat-kalimat tersebut,
saya seolah ditampar oleh penulis. Sebagai orang tua, saya banyak mengaminkan
penjelasan di buku ini, bahkan sampai meneteskan orang tua. Saya pikir, bagi
siapapun yang menyayangi anak, wajib membaca buku ini. jangan seperti pesan dalam
buku ini, orang tua mengalami kerenggangan dengan anak akibat salah pola asuh.
Nyaris tidak ada cela pada buku ini. beberapa pengulangan kata saja masih terlihat dalam buku ini. Mungkin karena buku ini merupakan terjemahan. Saya tentu berharap ada kelanjutan atau pembahasan lanjut mengenai pola asuh dari penulis. Terima kasih pada penulis dan Gramedia yang sudah membuka pikiran agar tidak melulu menggunakan konsep tradisional dalam mendidik anak.
#LombaResensiGPU
#SewinduBincangBuku
#bincangbukugpu
#bukugpu

Komentar
Posting Komentar