Markobas, Mardandang, dan Mairobung Bukti Kepedulian Sosial Bermasyarakat
Oleh : Geti Oktaria Pulungan
Perkembangan
zaman yang makin modern dapat memberikan dampak positif dan negatif bagi setiap
individu. Dampak positifnya adalah makin mudah jangkauan dan penyelesaian
masalah oleh solusi yang ditawarkan serangkaian teknologi canggih. Salah satu
contoh teknologi adalah tersedianya jaringan internet pada telepon seluler.
Melalui ponsel yang digenggam, kemudahan akan menghampiri. Sedangkan dampak
negatifnya adalah kesibukan setiap orang pada ponselnya masing-masing. Sudah
menjadi hal lumrah saat kebanyakan orang menatap ponsel tanpa peduli keadaan di
sekitar. Hal tersebut tentu saja menciptakan kesan apatis pada individu.
Sumatera
Utara merupakan salah satu provinsi yang memiliki tingkat kerukunan tinggi. Terdapat
keanekaragaman suku, agama, dan ras di wilayah barat Indonesia ini. Namun perbedaan
tersebut tidak menyurutkan sikap positif warganya. Hampir tidak pernah kita
dengar ada konflik di daerah tersebut. Hal ini jarang terjadi mengingat
perbedaan terkadang sulit diterima setiap insan.
Terhindarnya
konflik dapat disebabkan dengan adat yang ada di daerah Sumatera Utara.
Kebiasaan baik masyarakat telah berjalan secara turun-temurun. Walaupun
perkembangan zaman dan budaya asing menerpa, namun kebiasaan positif tersebut tetap
melekat pada masyarakat. Jika berkunjung ke kabupaten Tapanuli Selatan, masih terdengar
tetua adat yang dihormati oleh masyarakat setempat. Tetua adat tersebut dikenal
dengan istilah hatobangon. Pada hatobangon tersimpan segala asam manis
adat istiadat dan dengan senantiasa diwariskan pada generasi muda.
Selain
hatobangon, ada tradisi unik lainnya
di daerah Tapanuli Selatan (khususnya desa Sidapdap Simanosor, kecamatan Saipar
Dolok Hole). Setiap ada pesta pernikahan, kemalangan, dan kegiatan lain
(seperti pengajian akbar), maka warga di daerah tersebut akan menunjukkan
solidaritasnya masing-masing. Mulai dari kaum muda hingga tua akan
berbondong-bondong mengambil peran. Keikhlasan hadir pada wajah mereka. Celoteh
dan tawa kerap menyertai kegiatan tersebut.
Berbeda
dengan masyarakat modern yang biasanya hanya mengeluarkan lembaran rupiah, maka
persiapan kegiatan acara dapat berjalan dengan lancar. Entah uang tersebut
digunakan untuk membayar jasa memasak makanan (catering), ataupun membayar jasa kebersihan dan dekorasi. Pada
masyarakat desa Sidapdap Simanosor, tidak perlu mengeluarkan uang untuk
membayar tenaga-tenaga tersebut. Kenapa? Karena sudah ada masyarakat sekitar
yang rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk markobas, mardandang, dan
mairobung.
Sebagian
besar mata pencaharian masyarakat di desa Sidapadap Simanosor adalah petani. Walaupun
beberapa merupakan guru dan karyawan di kantor pemerintahan. Namun di sela-sela
waktu luang, mereka akan menyempatkan diri untuk melakukan markobas, mardandang,
atau mairobung. Semuanya kompak.
Mereka akan beramai-ramai ke lokasi kegiatan sembari berjalan kaki, karena
rumah yang satu dengan yang lain saling berdekatan dan dapat ditempuh dengan
berjalan kaki. Kaum ibu rumah tangga akan membawa hadangan[1]
masing-masing. Sangat sederhana yang dilakukan namun pada wajah mereka
terpancar kebahagiaan yang luar biasa.
1. Markobas
Bagi perempuan yang sudah berumah
tangga, markobas adalah kegiatan yang
rutin dilakukan. Markobas merupakan kegiatan masak-memasak ketika
terjadi suatu acara atau kemalangan. Makanan yang disiapkan adalah segala macam
lauk seperti gulai, sayur dan sambal. Makanan khas yang dimasak biasanya adalah
gulai kambing, gulai nangka, gulai rebung/pepaya muda, dan sambal jabut[2].
Jika di kota ada jasa catering, maka
di Sidapdap Simanosor ada markobas. Pada
acara pernikahan, markobas dilakukan
sehari sebelumnya. Sedangkan jika terjadi kemalangan, markobas akan dilakukan
saat itu juga. Tujuannya untuk memasak makanan bagi kaum bapak yang telah lapar
setelah kegiatan pemakaman jenazah selesai dilakukan. Sampai malam ketiga
tahlilan, markobas akan terus
dilakukan. Tentu saja untuk memasak makanan pada acara pengajian kaum ibu sore
hari dan kaum bapak di malam hari.
2. Mardandang
Mardandang
dilkaukan oleh kaum bapak. Kegiatan ini juga sama halnya seperti ibu, memasak
makanan untuk suatu acara/kemalangan. Namun makanan yang disiapkan berbeda
dengan saat markobas. Makanan yang
dimasak adalah beberapa dandang nasi. Selain itu, kegiatan mardandang juga diisi dengan memasak air. Terkadang memotong daging
juga dilakukan ketika mardandang. Alat
pemasaknya adalah tungku api yang besar. Oleh karena itu, cita rasa makanan
dari mardandang sungguh berbeda
sumber apinya adalah kayu bakar dan minyak tanah. Rasa khasnya akan menambah
kelezatan makanan yang selalu dinanti tersebut. Para bapak-bapak yang mardandang akan sukarela menikmati
kegiatan tersebut dengan peluh yang berceceran.
3. Mairobung
Tentu terbersit sebuah pertanyaan,
jika ibu dan bapak melakukan markobas dan
mardandang, bagaimana dengan pemuda
setempat? Apa yang mereka lakukan sebagai wujud kepedulian warga? Para pemuda,
baik putri dan putra akan melakukan mairobung
saat ada acara pernikahan maupun kemalangan. Mairobung adalah kegiatan mencari rebung di sela-sela kebun warga.
Rebung tersebut adalah kebutuhan para ibu dalam markobas. Rebung atau bambu muda biasanya tumbuh liar sehingga
harus dicari, bukan diminta. Karena apabila bahan untuk acara adat tersedia di
kebun warga, maka bahan tersebut dapat diminta pada pemiliknya. Dahulu, mairobung juga dilakukan untuk mencari
daun pisang sebagai bungkus makanan yang akan disajikan. Hanya makanan para hatobangon yang disajikan menggunakan piring. Untuk itu,
dibutuhkan daun pisang yang banyak. Namun sekarang semua makanan telah
disajikan dengan piring sehingga kegiatan mairobung
tidak lagi diisi dengan mencari daun, cukup mencari rebung saja.
Markobas,
mardandang, dan mairobung adalah adat yang harus dipertahankan. Jangan sampai zaman
menggerus adat yang sangat bagus seperti ini. Provinsi lain juga tidak ada
salahnya mencontoh kekompakan masyarakat desa Sidapdap Simanosor. Provinsi yang
rawan konflik karena perbedaan suku dapat belajar dari masyarakat di Sumatera
Utara. Penulis yakin, selain markobas,
mardandang, dan mairobung, masih banyak hal positif di Sumatera Utara. Tentu saja hal
ini menjadi terciptanya kebanggaan dalam benak setiap individu yang berdomisili
di Sumatera Utara.
Komentar
Posting Komentar