Prestasi Melejit, Kekerasan Menepi

 

Oleh : Geti Oktaria Pulungan

Perempuan merupakan makhluk yang kerap menjadi korban kekerasan berbasis gender. Tercatat 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2019[1]. Hal tersebut tak urung menciptakan ketakutan yang terpatri pada benak seorang perempuan.

Berbagai kasus kekerasan yang terjadi pada perempuan dapat berupa pelecehan seksual, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), ataupun perundungan. Salah satu faktor terjadinya kekerasan adalah hadirnya peluang untuk melakukannya. Selain itu, rendahnya rasa percaya diri seorang perempuan sehingga menjadi korban. Sang korban tidak berani melawan perundungan yang menimpa dirinya karena merasa tidak mampu. Akibatnya, ia terus terperangkap dalam kekerasan tersebut.

Pikiran seorang perempuan juga dapat menjadi belenggu. Hal inilah yang menyebabkan seorang perempuan menjadi lemah dan tak berdaya. Ia tak mampu menyuarakan peristiwa yang menimpa dirinya. Ia hanya berdiam diri karena sebuah ancaman pelaku.

Melalui permasalahan kekerasan pada perempuan, perlu diberikan solusi terbaik. Jangan sampai angka pada kasus tersebut semakin bertambah.

Kriteria Perempuan Tangguh

Perempuan merupakan makhluk yang diciptakan untuk bersikap lemah lembut. Meskipun demikian, bukan berarti ia lemah. Seorang perempuan dapat menjadi tangguh melebihi batu karang. Perempuan yang tangguh bukan berarti harus mampu mengalahkan satu atau dua orang lelaki. Bukan pula perempuan yang mampu mendorong seorang lawan hingga terjerembap.

Perempuan tangguh merupakan seseorang yang mampu keluar dari kungkungan orang lain. Termasuk seorang perempuan yang mampu mengatasi masalah ataupun cobaan yang menimpa dirinya. Ia tidak hanya menangisi nasib atau menyalahkan keadaan yang mencoba untuk mengobrak-abrik kehidupannya. Namun ia mampu bangkit dan menghadapi kehidupan selanjutnya.

Berkarya dan Berprestasi

Untuk menempa pribadi yang tangguh, seorang perempuan perlu meningkatkan rasa percaya diri. Pribadi demikian merupakan sebuah alasan agar perempuan dapat memandang dunia secara luas. Seseorang yang memiliki percaya diri tinggi tentu lebih dapat mengatasi masalah. Ia tidak akan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Langkahnya juga lebih yakin pada setiap keadaan mendesak.


Seorang yang rutin menghasilkan karya akan mendapatkan kepuasan tersendiri. Ia memiliki penyampaian yang sesuai pada jalur. Contoh karya yang dapat dihasilkan adalah tulisan, lukisan, hasil program komputer, dan sebagainya. Seseorang yang berkarya dapat menyalurkannya pada berbagai perlombaan. Terdapat banyak wadah untuk menampung segala minat dan bakat individu. Karya-karya yang dihasilkan dapat disalurkan menjadi sebuah prestasi. Rutin berkarya, maka prestasi pun senantiasa menghampiri.

Kekerasan Terpental

Seseorang yang berprestasi akan mendapat penghargaan dari sekitar. Orang tersebut tidak akan dipandang sebelah mata sehingga rasa percaya dirinya akan meningkat. Pengakuan dapat meningkatkan percaya diri seseorang. Ia juga mampu mengalahkan ketakutan diri sendiri akan persaingan. Seseorang yang gemar berkompetisi sudah pasti harus siap menerima menang dan kalah.

Dengan demikian, ia dapat terhindar dari kekerasan gender karena peningkatan percaya diri tersebut. Ia dapat melawan dan tidak memendam perlakuan yang diterimanya. Bahkan, ia juga dapat memberikan perlindungan pada korban aksi kekerasan berbasis gender. Ia dapat menyampaikan aspirasi pada pihak terkait untuk memperjuangkan hak korban tersebut.

Oleh karena itu, sudah selayaknya seorang perempuan bangkit dan berprestasi. Melalui minat yang tertanam dalam diri masing-masing, perempuan dapat menjadi lebih berharga dan tercegah dari kekerasan berbasis gender.

 



[1] Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan yang dirilis pada Maret 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petunjuk bagi Kekeliruan Orang Tua Masa Kini

Afiliasi Usia dan Sikasep pada Masa Covid-19