KAUM MUDA BICARA INDONESIA
Batik Di Kalangan Anak Muda
Oleh: Geti Oktaria Pulungan
Batik
merupakan milik bangsa Indonesia yang paling berharga. ”Berkenaan dengan tema Punyakah Kita Modal
Sejarah dan Budaya untuk Bangsa Kita Berjaya? yang terkandung dalam pesan (artikel) berjudul Batik dan Kasih Ibu di
www.darwinsaleh.com, saya berpandangan bahwa batik dapat menjadi modal kejayaan
bangsa Indonesia”. Setuju dengan artikel tersebut, batik dapat mendunia jika
bangsa kita memiliki modal percaya tinggi yang tinggi. Semua tergantung pada kita
sebagai bangsa yang cinta akan tanah air.
Batik
adalah jiwa bangsa Indonesia. Batik bukan milik bangsa lain yang kita rebut.
Pengakuan terhadap batik sebagai salah satu perwujudan kecintaan terhadap tanah
air kita. Siapa yang mencintai batik, maka ia juga mencintai tanah air.
Mengapa
kita tidak percaya diri terhadap keunikan budaya bangsa? Hal ini dapat terlihat
dari beberapa fenomena. Saat ini yang sedang populer adalah pakaian impor dari
luar Indonesia. Sementara itu anak muda cenderung mengikuti perkembangan dengan
menjadi pelanggan setianya. Jika satu yang memakai, maka akan cepat menjamur
kepada yang lainnya. Hampir semua mengikutinya, terkadang tanpa memikirkan
keserasian terhadap diri sendiri. Adakalanya pakaian tersebut tidak sesuai
dengan bangsa kita. Namun, jika tidak mengikuti mode maka dikatakan tidak
modis.
Salah
satu ciri khas bangsa Indonesia adalah batik. Pakaian dikatakan serasi jika
dapat menyatu dengan jiwa kita. Bukan terikut dengan bangsa lain yang terkadang
tidak sesuai dengan jiwa. Misalnya, dalam sebuah acara dapat terhitung beberapa
orang yang memakai batik. Peserta acara tersebut berlomba-lomba memakai pakaian
yang paling terbaru saat itu. Pujian datang secara silih berganti terhadap
orang tersebut. Sementara itu orang lain yang ingin dipuji juga berusaha
seperti orang tadi. Dia mengikuti cara berpakaiannya dan mencari tahu di mana
membelinya. Begitulah cara pakaian tersebut menjamur.
Sangat
jarang kita saksikan kalangan muda yang memakai batik dalam suatu acara kecuali
telah menjadi ketentuan (dress code).
Yang memakai batik hanya kalangan yang sudah berumur. Sehingga yang memakai
batik dinilai terkesan tua. Pandangan tersebut jelas sangat salah. Mengapa
timbul pandangan demikian? Karena kalangan muda enggan memakai batik. Mereka
takut terlihat tua. Padahal persepsi tersebut muncul karena mereka tidak berani
tampil memakai batik.
Batik
bukan hanya untuk orang tua. Batik untuk semua usia. Kebudayaan tersebut semua
kalangan bangsa Indonesia. Memakai batik untuk usia yang sudah berumur telah
membudaya. Saat ini telah banyak model pakaian batik yang disesuaikan dengan
jiwa kalangan muda.
Tidak
ada salahnya mencoba memakai batik. Jika tidak ada yang berani melakukan
perubahan, batik akan sirna tergantikan oleh modernisasi. Percaya diri menjadi
modal yang paling utama pada setiap bangsa Indonesia. Kebiasaan bangsa kita
yang sering mengikuti perkembangan akan menjadi kuncinya. Jika ada yang
memulai, maka batik dapat menjamur seperti pakaian impor. Tidak ada istilah
malu dalam memakai batik. Batik adalah milik kita. Bangsa yang malu seharusnya
adalah bangsa yang mengambil budaya
bangsa lain.
Berikut
ini adalah beberapa solusi untuk menjadikan batik sebagai modal kejayaan bangsa
Indonesia:
Program Kampanye Batik
1.
Penerapan Pakaian Batik Pada Seragam
Sekolah
Kita
sering menyaksikan pakaian siswa di Indonesia menggunakan batik pada hari
tertentu. Hal tersebut merupakan satu upaya yang sangat baik. Selain dikenalkan
sejak usia dini, batik juga terbukti milik Indonesia. Namun penerapan tersebut
masih belum menyebar secara merata. Belum seluruh sekolah melakukannya.
Sebagian besar penerapan tersebut masih pada sekolah-sekolah di kota besar.
2.
Batik Tidak Hanya Untuk Acara Resmi
Memakai
batik pada acara kalangan muda merupakan salah satu upaya yang harus dicoba.
Penyelenggara acara atau pihak panitia dapat menentukan batik sebagai tema
pakaian (dress code). Dari ketentuan
pakaian tersebut, maka peserta acara dapat berlomba-lomba mengenakan batik yang
disukainya. Tidak ada istilah malu atau terlalu tua karena semua yang hadir
memakai batik. Kalangan muda dapat mengagumi batik yang dikenakan para undangan
sehingga permintaan batik di pasaran akan meningkat. Keinginan konsumen akan
model dari pakaian batik terus berdatangan tanpa mengubah ciri khas batik
tersebut.
3.
Pernak Pernik Batik
Pemakaian
batik tidak hanya melalui pakaian saja. Kalangan muda sangat suka sesuatu yang
unik. Memakai motif batik pada aksesoris merupakan sesuatu yang tidak biasa.
Misalnya pada gelang, kalung, tas, hiasan rambut, bingkai fhoto, sarung bantal
dan guling, dan berbagai jenis aksesoris yang digemari kalangan muda. Tidak ada
lagi istilah batik hanya untuk acara resmi dan orang tua. Trend setter batik akan mendunia. Status kepemilikan batik oleh
Indonesia akan dikenal. Bangsa Indonesia tidak lagi menjadi bangsa yang
konsumtif, tapi produktif. Semua dapat bermula pada kalangan muda. Sifat
konsumtif dan ketertarikan yang tinggi terdapat pada jiwa kalangan muda. Jika
kalangan muda di Indonesia berhasil menjadi trend
setter di luar negeri, maka bangsa kita akan berhasil jaya melalui batik.
4.
Designer Mengenalkan Batik Tidak Hanya
Di Indonesia
Batik
dapat dikenalkan ke luar negeri melalui pameran-pameran yang diikuti oleh
disainer muda. Upaya tersebut untuk menarik minat bangsa asing akan budaya
Indonesia. Melalui tangan para disainer dapat dihasilkan karya yang sangat
indah akan motif batik. Jika batik telah berhasil menarik minat bangsa asing,
maka batik akan mendunia. Bangsa Indonesia pun dapat Berjaya melalui budaya
tersebut.
5.
Promosi Batik Melalui Pelajar Di Luar
Negeri
Jumlah
pelajar di luar negeri sangat banyak jumlahnya. Melalui mereka dapat menarik
para peminat batik di luar negeri. Misalnya mahasiswa yang tengah menuntut ilmu
di Inggris. Tidak adanya seragam di sana dapat melahirkan kebebasan untuk
menggunakan batik. Sang pelajar dapat disebut ‘berbeda’ karena memiliki
keunikan tersendiri dalam berpakaian. Rasa penasaran bangsa asing dapat
terjawab melalui di mana ditemukannya batik. Bisa saja mereka ingin memiliki
batik dan memesannya kepada pelajar tersebut. Permintaan ekspor batik pun
dilakukan sehingga meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia. Mahasiswa tadi
juga mendapat pemasukan melalui bisnis batik sebagai distributor di luar
negeri.
Berbagai upaya tesebut dapat dilakukan jika
ada kemauan. Rasa cinta tanah air akan mengalahkan rasa takut kita untuk dicela
oleh orang lain. Tidak ada alasan malu memakai batik. Jika bukan kita yang
melestarikan budaya bangsa, siapa lagi? Jika bangsa lain dapat mengagumi
kebudayaan kita, mengapa kita tidak? Jadilah bangsa yang cinta tanah air. Mulai
sekarang, jangan ragu untuk memakai batik. Cinta batik, cinta Indonesia.
Semangat batik, semangat anak muda. Jangan ragu dan jangan bimbang. Akui
identitas bangsa mulai dari sekarang. Saatnya mencintai batik layaknya darah
daging sendiri.
Berikut ini beberapa
batik milik saya sebagai salah seorang pecinta batik dari kalangan muda.
“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari
www.darwinsaleh.com. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan
merupakan jiplakan”.



Komentar
Posting Komentar