Becakku Tak Harus Punah

            Perjalananku usai. Kini aku menghirup udara segar kota kelahiran setelah empat bulan menimba ilmu di tanah orang. Menginjakkan kaki turun dari bus terasa ada yang berbeda. Tak lagi tampak becak-becak yang mangkal menanti penumpang di stasiun. Aku pun memilih berjalan ke pinggir jalan dengan membawa koper, ransel, dan sekotak oleh-oleh untuk keluarga tercinta.
            Lama menanti, akhirnya sebuah becak kosong tampak mendekat. Segera kupanggil dengan hati lega.
            “Saya aja Wak[1]” aku mengangkat koper dan ransel ke dalam becak. Tak tega jika uak tersebut yang mengangkatnya.
            Becak yang kunaiki tampak reyot, ditambah lagi beban barangku yang cukup banyak. Keriput tangan dengan kulit yang membungkus tulang menyiratkan hidupnya tidak seberuntung orang-orang, badan yang gemetar menyiratkan keterpaksaan usia senja dalam mengendarai becak Begitu sarat perjuangan hidup yang telah dilalui dengan sang becak menjadi saksinya.
            “Tiba dari mana, Nak?”
            “Apa Wak?”
“Tiba dari mana?” Bising suara vespa membuat suara uak becak tidak terdengar jelas. Becak Padangsidimpuan memang beda dibandingkan becak daerah lain. Kendaraan roda tiga ini memiliki vespa sebagai kendaraan penggeraknya dan dilekatkan bak yang cukup luas. Tak heran becak termasuk salah satu ikon yang dibanggakan daerah.
Tak banyak percakapan yang dapat kami perbincangkan dan nampaknya beliau mengerti akan suara vespa becak yang menjadi hambatan.
“Ongkosnya tujuh ribu, Nak”
“Kembaliannya untuk Uak aja” aku memberikan uang sepuluh ribu sebanyak satu lembar.
“Wah, makasih banyak. Semoga murah rezeki” binar matanya menunjukkan rasa syukur yang amat dalam akibat mendapat uang lebih yang menurutku nilainya tak berarti. Aku mengalihkan pandangan karena rasa malu.
“Sama-sama Wak. Sering-sering lewat ya, Wak. Banyak penumpang di sekitar sini” uak tersebut sekali lagi memamerkan senyum tulusnya. Tampak ia penuh harap pada ucapanku.
Kupandangi rumah dan keluarga yang kurindukan. Tak ada yang berubah, masih hangat seperti dulu. Aku bahagia akan berlibur selama dua bulan di sini. Anak rantau yang hanya bersua orang tua di kala libur. Menempuh kota Medan dengan perjalanan sepuluh jam dan ongkos yang tak sedikit membuatku tidak semudah teman lainnya untuk pulang kampung. Nasihat ibu juga yang menguatkan agar aku menjadi banteng di perantauan, tahan sakitnya menuntut ilmu agar kelak mencecap manisnya kesuksesan. Ibu hanya menjadi pedagang di pasar, sedangkan ayah adalah seorang pekerja kantoran. Peluh mereka membuatku sadar bahwa uang tidak mudah didapat jika hanya ongkang-ongkang kaki. Mengisi liburan seperti sekarang kugunakan sebaik-baiknya membantu mereka, walaupun ibu tidak tega dan lebih sering menyuruhku membersihkan rumah saja.
“Bu, kenapa becak-becak itu nggak narik?” ujarku sembari menunjuk becak yang tengah mangkal di depan pasar.
“Mereka yakin penumpang di sini lebih banyak daripada berkeliling dan menghabiskan bensin. Maklumlah, sekarang BBM naik” aku manggut-manggut.
“Pantas aja aku kemarin susah dapat becak di stasiun. Becak-becak yang lewat dari depan rumah kita tidak banyak lagi, Bu. Tidak seperti dulu” aku menerawang mengingat masa kecil ketika berangkat sekolah dengan becak langganan. Saat itu masih banyak jumlah becak yang berseliweran. Semua mencari nafkah dengan damai. Gurat bahagia jelas terlihat di wajah mereka. Setiap insan membutuhkan mereka.
“Lagian jumlah becak sekarang udah jauh berkurang dibandingkan dulu”.
Malamnya aku tak mampu memejamkan mata. Becak Padangsidimpuan yang dapat punah terus berkecamuk di pikiranku. Seakan hal langka yang wajib dilindungi.
“Bu, aku ikut ke pasar ya? Tapi pulangnya nggak bareng ibu, aku mau wawancara abang-abang becak, boleh ya Bu?”
“Lho, ada tugas dari kampus ya? Bukannya ini lagi liburan?”
“Ini proyek aku bu, ide sendiri. Nanti juga ibu tahu hasilnya”.
“Ya udah, tapi hati-hati dan jangan pulang malam” aku mengecup pipi ibu sebagai tanda terima kasih. Ibu sangat mengkhawatirkanku sebagai anak perempuan satu-satunya yang tak pandai naik sepeda motor.
“Permisi abang-abang. Boleh minta waktunya sebentar?” setelah mendapat persetujuan, aku pun menjelaskan tujuan dan ide yang membuat mereka antusias.
“Jadi sekarang jumlahnya hanya tiga puluh enam ya, Bang?”
“Ya. Tidak semua narik setiap hari, Dek”.
“Kita bisa antar besok ke perkumpulan PeBe (Penarik Becak) Padangsidimpuan. Di sana banyak yang istirahat dan adik bisa tanya-tanya” ujar abang becak yang paling tua.
Baiklah. Aku semakin bersemangat karena sambutan hangat mereka.
“Bang, kita kedatangan adik mahasiswa yang mau buat gebrakan. Abang boleh kasih info dan mudah-mudahan dia bisa menolong kita” kami menghampiri bang Landong, ketua PeBe yang tengah menikmati secangkir kopi.
Lama berbincang, aku mendapat banyak informasi. Salah satunya adalah mereka kurang pelanggan karena sekarang semua serba mahal, jadi banyak yang memutuskan untuk naik angkot walaupun ongkosnya hanya beda seribu rupiah. Selain itu, banyak yang mencoba metode hemat dengan mengkredit sepeda motor, hanya membeli bensin satu liter tapi sudah bisa ke banyak tempat. Yang menjadi permasalahan saat ini adalah adanya rencana ojol[2] yang masuk ke Padangsidimpuan. Tentu lahan pencarian mereka akan semakin sulit.
“Kalau begini caranya, aku berhenti narik becak aja, Dek” ia mengacak rambutnya frustasi. Memikirkan nasib becak Padangsidimpuan juga membuatku merasakan hal sama dengannya.
“Tolong bantu ya, Bang. Mudah-mudahan kita berhasil” aku menunggu jawabannya. Ia menyeruput kopi tanda tengah berpikir.
“Baiklah. Tapi ada beberapa kendala. Ada beberapa anggota PeBe yang jarang datang ke sini. Jadi kita harus mendatangi rumahnya” aku memikirkan itu tak jadi masalah. Semoga waktu liburanku cukup menyelesaikan semuanya.
Penelusuran ke rumah anggota PeBe memakan waktu dua hari. Beberapa dari mereka adalah bapak tua yang fokus dan sangat giat berkeliling mencari penumpang sehingga jarang ditemukan. Kami pun menyambangi rumahnya ketika malam berharap mereka telah pulang untuk istirahat. Salah satunya adalah bapak tua yang mengangkutku dari stasiun. Syukur semua setuju dan tidak ada yang menolak. Sembari mengumpulkan tanda tangan anggota PeBe, aku menjalankan proposal dibantu dengan anggota lainnya. Dua hari kemudian sudah ada jawaban dari perkumpulan mahasiswa, dosen, dan organisasi yang bersedia membantu. Bahkan tak sedikit yang memberikan dana pribadi melalui postingan media sosial yang kami sebar.
“Baiklah. Kita mulai di hari pertama dan semoga sukses” kami menutup pertemuan dengan doa bersama.
Hari pertama masyarakat belum sadar dengan perubahan yang terjadi. Terlebih ini hari minggu sehingga tidak banyak yang beraktivitas di luar rumah. Hari kedua sudah cukup banyak yang mengeluh. Dari cerita ibu yang kudengar, pedagang di pasar bertanya-tanya kemana gerangan becak-becak tak ada satupun yang muncul. Hari seterusnya pun demikian. Hingga lima puluh hari sudah berlalu, masyarakat hanya bertanya tanpa tahu jawabannya. Ketika malam hari, bang Landong mendatangi rumahku.
“Dek, gimana ini? Kita diminta datang ke rumah walikota besok pagi” ujarnya panik.
“Siapa yang minta, Bang?”
“Ini suratnya, Dek. Bacalah. Abang minta kau ikut mendampingi dan bantu menjelaskan. Kau yang lebih bijak daripada kami yang tak bersekolah ini” aku melipat surat itu sembari tersenyum.
“Tenanglah, Bang. Besok kita ke sana pagi-pagi. Jangan lupa naik becak dan ajak yang lain. Semuanya akan baik-baik saja” ia tampak ragu namun tetap mengangguk.
Esoknya tepat pukul tujuh kami berangkat. Diiringi sembilan becak, aku dan bang Landong menjadi barisan terdepan. Orang-orang heran kenapa tiba-tiba ada becak setelah sekian lama menghilang.
“Benar Saudara-Saudara sengaja melakukan aksi ini?” tanya pak Wali.
“Benar, Pak” aku melihat lutut bang Landong yang gemetar. Hanya kami dua yang diizinkan masuk ke ruangan.
“Bisa dijelaskan apa sebab dan tujuannya secara masuk akal?” aku menunggu Bang Landong yang tak kunjung membuka mulut dan malah balik menatapku penuh arti.
“Baiklah. Saya akan menjelaskannya. Berdasarkan data hasil wawancara dengan para penarik becak di Padangsidimpuan sebagai berikut: jumlah becak Padangsidimpuan hanya berjumlah tiga puluh enam buah dan hampir punah. Hal tersebut karena banyak yang memilih meninggalkan profesi menarik becak. Tidak seperti dulu di tahun 2001 di mana masih banyak pelanggan. Lalu ke mana semua pelanggan pergi? Mereka memilih naik angkot atau sepeda motor sendiri. Nah, sekarang ada lagi kabar bahwa ojol akan masuk di Padangsidimpuan sehingga para penarik becak putus asa dan merasa tidak ada masa depan. Jadi kami melakukan aksi ini bertujuan untuk melihat animo masyarakat apakah becak dapat dilanjutkan atau dihapuskan sebagai transportasi unik di Padangsidimpuan” aku juga menunjukkan rekaman wawancara serta foto-foto hasil observasi kepada beliau.
“Salah satu pertanyaan yang membuat saya penasaran adalah, bagaimana jika mereka tidak bekerja selama seratus hari? Darimana mereka mendapat uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari?”
“Hal itu sudah kami pikirkan, Pak. Makanya kami mengajukan proposal dan syukurnya dana yang dibutuhkan melebihi kebutuhan mereka sehari-hari. Semua dana kami bagi rata. Banyak yang simpatik pada kegiatan ini sehingga banyak yang bersedia menjadi donatur”.
“Kami akan merapatkan hal ini. Tunggu kabar beberapa hari lagi” aku tersenyum dan kulirik bang Landong menarik napas panjang.
Tiga hari kemudian kami kembali ke rumah pak Walikota. Banyak yang dibicarakan di sana. Tapi kali ini bentuk dukungan terhadap aksi kami. Sepulangnya semua anggota PeBe mengucap syukur. Beberapa di antaranya meneteskan air mata. “Baru kali ini kami dianggap ada” begitu kata mereka.
Hari ini adalah hari terakhir sebelum aku kembali ke tanah rantau. Pak walikota mengundang semua anggota PeBe untuk peresmian ojol yang tentu saja dengan kendaraannya becak. Tak lupa para donatur aksi ‘100 Hari Tanpa Becak’ turut diundang serta diberikan ucapan terima kasih langsung oleh pak walikota. Sang donatur pun ikhlas dana mereka digunakan para PeBe walaupun tak sampai seratus hari, untuk modal reparasi becak katanya. Senyum tak mampu lepas dari wajahku. Becakku tak lagi terancam punah. Hidup mereka tak lagi susah. Masyarakat pun lebih menghargai keberadaan becak. Khususnya pedagang pasar yang membawa banyak barang dan tak punya kendaraan seperti kami.
Aku melihat mereka mulai belajar menggunakan aplikasi ojol melalui handphone yang disubsidi oleh pak walikota. Uak tua yang beberapa kali salah pencet dan bang Landong yang dengan sabar mengajari. Begitulah keceriaan hari ini. Aku dapat kembali ke tanah rantau dengan tenang. (Dimuat di Waspada, 5 Mei 2019)
*Tamat*

           


[1] Uak/Wak : panggilan untuk orang yang dianggap lebih tua dari ayah kita (di daerah Padangsidimpuan dan sekitarnya)
[2] Ojol : ojek online

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Afiliasi Usia dan Sikasep pada Masa Covid-19

Petunjuk bagi Kekeliruan Orang Tua Masa Kini

Prestasi Melejit, Kekerasan Menepi