Kakak dan Celengan Ayam
Aku mempunyai seorang saudara perempuan,
namanya kak Ani. Kakak orangnya baik dan sayang padaku. Saking sayangnya, aku
sering dimarahi oleh kakak. Kakak sering kali memarahiku jika terlalu banyak
membeli keperluan yang tidak perlu. Terkadang aku bertengkar dengan kakak
karena aku tidak suka uangku diatur. Terserah aku mau mempergunakan uang untuk
apa, yang penting aku tidak meminta uang kakak.
“Jangan
banyak makan cokelat, nanti gigimu rusak” kakak menghampiriku yang tengah makan
cokelat di teras rumah.
“Jangan
banyak makan es krim, tidak baik” kata kakak pada suatu ketika melihatku
menjilat es krim tiga rasa.
“Lebih
baik uangnya kamu tabung” aku merengut mendengar omelan kakak yang lagi-lagi
mengganggu kesenanganku mengemil. Untuk apa aku repot-repot menabung, kalau
tidak punya uang kan tinggal minta pada ayah.
Sore
ini aku melihat kakak yang tengah sibuk memasukkan lembaran uang kertas ke
dalam celengan. Bentuknya ayam dan berwarna merah, aku yakin kakak baru
membelinya. Saat kutanya ke mana celengan ayam kakak yang berwarna biru, kakak
menjawabnya telah penuh sehingga harus membeli celengan baru di pasar.
Puasa
sebentar lagi usai, artinya lebaran akan segera tiba. Hari raya umat muslim
yang dinantikan dalam waktu sekali setahun. Di kampungku biasanya setiap
anak-anak akan pamer baju hari raya. Ada yang memiliki dua, tiga, bahkan lebih.
Aku membayangkan sebuah gaun baru yang akan dikenakan ketika sholat Ied nanti,
membuatku seperti seorang putri kerajaan.
“Yah,
kapan kita akan pergi ke pasar?” Ayah hanya diam memandangku bingung.
“Membeli
baju lebaran, Yah. Bukankah sebentar lagi akan lebaran?” Aku mencoba
mengingatkan ayah. Namun jawaban ayah membuat hatiku sedih.
Tok, tok, tok...
“Sifa.. Buka pintunya,
Dik.” Suara kakak terdengar jelas di balik pintu.
“Jangan sedih, Dik” Kakak
membelai rambut panjangku.
“Siapa yang tidak sedih
kalau tidak punya baju lebaran kak.” Aku merengut.
“Hari raya itu tidak
dirayakan dengan baju baru. Yang penting kita bersih dan suci. Ibadah dapat
membersihkan diri sehingga kita dapat merayakan kemenangan. Tidak harus dengan
memiliki pakaian baru. Mungkin ayah belum dapat rezeki banyak tahun ini sehingga
tak dapat membelikan baju baru. Kita harus sabar dan menang melawan bujuk rayu iblis.”
Air mataku kembali menetes, kakak ternyata sama saja dengan ayah. Aku teringat
pada ibu. Andai saja ibu masih hidup, pasti kami mempunyai banyak uang.
Kakak mengabaikanku
yang menangis. Ia keluar kamar dan kembali membawa sesuatu. Aku seperti
mengenalinya. Dua buah celengan ayam dan sebilah pisau dapur. Kakak menutup
pintu dan duduk di sampingku. Kali ini aku duduk di samping kakak, melihat apa
yang akan dilakukan pada celengan-celengan itu. Sreett... Bagian bawah celengan ayam berwarna biru terbelah dan
uang kertas berhamburan dari dalamnya. Sembari kakak membelah celengan ayam
kedua, aku diminta memisahkan uang kertas sesuai dengan angkanya masing-masing.
Setelah selesai
menghitung uang tabungan kakak selama satu tahun, aku baru menyadari kakak
telah menjadi orang kaya. Tak sia-sia kakak selama ini berhemat. Kakak
mengajakku ke pasar untuk membeli baju. Aku tak mau. Aku sedih jika uang kakak
yang banyak akan habis terpakai untukku. Namun kakak sudah berjanji akan
membelikanku baju lebaran jika ayah tak punya uang. Akhirnya aku mengangguk
setuju dan segera mengganti pakaian.
Setibanya di pasar,
kakak menyuruhku memilih baju. Harga yang mahal tak menjadi masalah bagi kakak.
Aku dibelikan tiga baju, sementara kakak membeli dua baju. Setelah dari kios
pakaian anak-anak, kakak mengajakku ke toko orang dewasa. Aku heran karena
kakak memilih beberapa baju orang dewasa laki-laki. Setelah lama memilih, kakak
akhirnya membungkus baju koko berwarna merah hati, celana panjang, dan sebuah
kaos. Tak lupa sebuah lobe berwarna putih.
Setibanya di rumah, ayah
meneteskan air mata ketika melihat isi bungkusan yang diberikan kakak. Di saat
ayah tidak mempunyai uang, ternyata kakak membelikan dengan uang tabungan
sendiri. Aku salah selama ini telah menuduh kakak pelit. Mulai saat ini juga,
aku akan menabung. Menyisihkan uang pada celengan ayam yang kemarin dibelikan
kakak di pasar.(Dimuat di Padang Ekspress, 12 Mei 2019)
Komentar
Posting Komentar