Senja di Paropo
Hari-hari begitu membosankan. Tak ada
yang menarik. Aku ingin melepaskan rasa bebas yang tertanam dalam jiwa. Liburan
dan masa sekolah sama saja. Hanya bergulir tanpa sesuatu yang berarti. Seluruh materi
pelajaran sudah menempel pada kepalaku, berkat disibukkan dengan les ke sana
kemari. Pun liburan hanya diisi dengan menghabiskan uang, belanja keluar negeri
bersama mama dan berkumpul dengan teman sosialitanya. Aku ingin sesuatu yang
berbeda.
Satu
demi persatu penjelasan dari guru bagaikan angin lalu. Pikiranku melayang jauh.
Khayalan akan berpetualang bersama teman, menikmati masa remaja yang
sesungguhnya. Di sudut kelas ini satu inginku berlabuh. Bukankah hewan saja tak
boleh kita kekang? Bagaimana dengan jiwa seorang gadis yang tengah mekar
sepertiku?
Semburat
langit kota Medan hari ini membuatku menikmati hidup. Dari jendela kamar,
kesibukan roda empat yang mengantarkan tuannya kembali ke rumah terlihat jelas.
Tidak, aku enggan menatap ke bawah sana. Menatap langit berhiaskan
burung-burung yang mengepakkan sayap untuk terbang bebas menjadi pilihan tepat.
Andai aku bisa seperti itu.. Aku tak akan terpenjara sepi kehidupan yang
membosankan. Menjadi anak pemilik sekolah membuatku memiliki sedikit teman. Langkahku
yang dibatasi ayah membuat mereka takut menyapaku. Padahal aku ingin seperti
mereka..
Suara
mama menyadarkanku. Pasti aku diajak ke salon, mall, atau arisan. Bahkan menikmati waktu sendiri pun aku tak bisa!
“Ada
Rani nyariin kamu” mama berlalu tanpa mengamati mendung di wajahku. Beliau
memang tak mengerti anak gadisnya.
Aku
menghampiri Rani yang tengah asyik mengunyah cookies. Ternyata dia tidak sendiri. Sinta yang juga menjadi teman
sekelas menyenggol badannya. Rani tetap menikmati makanan yang disediakan bu
Ina. Satu menit kemudian ia menuntaskan makannya dengan meminum segelas jus
jeruk. “Mungkin dia jarang makan-makanan
seperti ini” pikirku sembari tersenyum.
“Kamu
mencemooh aku ya? Kamu sih, kelamaan keluar dari kamar. Makanan ini sudah
memanggil-manggil, mubazir kan disia-siakan” wajahnya memerah karena dipergoki
kalap akan makanan. Aku dan Sinta menahan tawa melihat tingkahnya.
Mengalihkan
rasa malu, dia langsung menceritakan tujuan kedatangannya, tentu bukan untuk
makan gratis. Aku mendengarkan dengan seksama. Sinta yang sudah mengetahui
rencananya hanya mengangguk-angguk. Kulirik tanggal di jam tangan, masih ada
waktu seminggu lagi. Menimbang ajakan mereka yang tentunya sangat
kucita-citakan kenyataannya. Izin kedua orang tua membuatku ragu. Belum tentu
mendapat restu dari keduanya. Kata hatiku berbisik tegas, sekali ini saja. Aku meminta waktu pada mereka untuk memutuskan
segalanya. Termasuk usaha membujuk raja dan ratu di rumah ini. Sayup-sayup
terdengar keindahan di sana yang sangat menjanjikan. Tidurku dipenuhi dengan
kerisauan yang butuh sebuah jawaban.
Kudatangi
mama yang tengah bersantai di teras belakang. Pijitanku di kaki beliau membuat
keningnya berkerut. Ternyata beliau memahamiku. Katanya ada suatu keinginan
yang akan kuutarakan. Wanita yang tak pernah pudar kecantikannya terkejut
mendengar permintaanku, dikira aku menginginkan sebuah barang mahal atau
terkini yang menjadi pajangan di brand
kelas atas.
“Kamu
sedang tumbuh dewasa, Nak” dibelainya rambutku. Aku menantikan kata-kata
lanjutan yang akan terucap darinya.
“Kamu
boleh pergi. Tapi dengan satu syarat, harus dapat menjaga diri” beliau memberi
ultimatum, ini kesempatan pertama. Sekaligus kesempatan terakhir jika aku
menyia-nyiakan kepercayaannya. Kupeluk beliau dan kusampaikan mengenai
permintaan izin kepada ayah. Mama meyakinkan semuanya baik-baik saja. Biar
beliau yang menyampaikan kepada ayah yang tengah berada di luar kota. Bulir air
mata jatuh dari sudut mataku, merasakan kasih seorang ibu yang tengah
memberikan putrinya sebuah pelajaran baru, kepercayaan.
Kutelusuri
rak makanan dengan langkah perlahan. Makanan favorit kumasukkan
sebanyak-banyaknya. Tak lupa kurangkap untuk cemilan di perjalanan. Daftar
belanja tanpa list yang sudah biasa
kulakukan dengan mama membuat Rani dan Sinta geleng-geleng kepala. Aku
mentraktir semua makanan selama bepergian sebagai wujud bahagia. Tak lupa
kudatangi rak berisi kebutuhan mandi sebagai pelengkap.
Tibalah
hari yang ditunggu. Kami berkumpul di rumah Rani. Tampak Aldi dan Dika segera
menyambut kedatanganku. Aldi melunturkan kebingunganku dengan senyuman
teduhnya. Kabarnya dia menyukaiku. Tak ada alasan untuk menolaknya. Ganteng,
pintar, baik, soleh, dan populer. Hanya saja aku takut kepada ayah sehingga
menutup hati pada siapapun.
Perjalanan
di pagi hari sungguh memberikan kesejukan. Tak ada macet khas kota. Semuanya
tergantikan oleh deret pepohonan. Tiga jam menuju Paropo tak kusia-siakan.
Kamera khusus meliput perjalanan tak pernah absen dari tanganku. Sinta dan Rani
sibuk menikmati makanan tampaknya tidak begitu tertarik dengan pemandangan yang
disuguhkan alam. Mungkin saja mereka sudah beberapa kali melewatinya.
Aku
berteriak ketika melihat kubangan air raksasa di kejauhan. Dika yang terkejut
mendengar jeritanku spontan menginjak rem. Beruntung tidak terjadi kecelakaan.
Aku hanya meringis menjawab tatapan mereka yang mengandung arti ‘Kampungan,
seperti tidak pernah melihat danau Toba’.
Mobil melaju lambat
hingga akhirnya berhenti. Aku berlari menyentuh dinginnya air. Terpantul wajah
ceriaku di permukaan, membuat siapapun tak tahan segera menenggelamkan diri di
dalamnya. Mengapa aku lama sekali mengenal surga dunia ini? Oh ya, di mana
kameraku? Ketika menoleh, kulihat ia telah digenggam oleh Aldi. Aku tak sadar
sedari tadi telah dibidiknya. Ajakan Sinta dan Rani untuk membakar ikan tak
kuhiraukan. Mereka pun pasrah, membiarkanku menikmati setiap jejak kebebasan
selama dua hari.
Aldi tak membiarkanku
sendiri. Ia menemaniku, seakan mendampingi anak kecil yang gamang akan dunia
luar. Sampai usai makan pun dia tetap di sampingku. Tak ada kata malu padaku
yang menyantap makanan dengan lahap. Walau jauh di lubuk hati tersimpan rasa
simpati padanya. Ikan bakar, sambal kecap, acar, dan kerupuk yang disiapkan
Sinta dan Rani membuatku menyendokkan nasi tambah hingga dua kali. Tak
kuindahkan ejekan yang biasanya kulontarkan pada mereka. Suasana dingin dan
keindahan alamlah yang menjadi faktor selera makanku bertambah.
Senja ini kami
menghabiskan waktu dengan menikmati keindahan alam. Tak banyak kata yang
terucap, mempersilakan pada desiran angin untuk menambah kenyamanan tiada
terkira. Pandangan kagum pada lengkungan danau terbingkai oleh bukit hijau. Jauh
di atas sana tampak pinus yang memberikan kesan tak ada satu ciptaan manusiapun
yang mampu mengalahkan keindahannya. Matahari yang bergerak ke barat
mengalirkan bayang warna pada riak danau yang jernih. Beberapa traveller lainnya sibuk mendirikan tenda
menyambut dinginnya sang malam di Paropo.
Mataku membelalak
mendengar suara pukulan. Aldi tersungkur, dari sudut bibrnya mengalir darah
segar. Pandangan marahku berubah seketika melihat sang pelaku. Ayah telah
berdiri dan bersiap memukulnya tanpa ampun. Beliau bak seorang malaikat
pencabut nyawa. Sorot matanya tajam, tak kenal belas kasih. Aku menangis di
kaki ayah, memohon untuk tidak menghajar Aldi. Pintaku tak diindahkan, beliau
memukul Aldi yang berniat bangkit dan aku diseret masuk ke dalam mobil.
Satu
bulan kemudian...
Aku menyeruput cappuccino di sudut kelas, enggan
bergabung di kantin. Tatapan semua siswa di sekolah menghakimiku. Tiada
seorangpun yang sudi berteman denganku, termasuk Rani dan Sinta. Akulah yang
menanggung sikap otoriter ayah. Karena mampu memisahkan urusan sekolah dan
pribadi, beliau memecat Aldi dari sekolah. Semua karenaku.. Senja di Paropo tak
hanya menciptakan kenangan indah, namun menyuguhkan luka. (Telah dimuat di Harian Analisa pada 21 April 2019)
*Tamat*
Komentar
Posting Komentar