Berpikir di Luar Konteks, Sekolah Relawan Menjangkau Seluruh Aspek
Oleh : Geti Oktaria Pulungan
Era
milenial nyaris memusnahkan kepedulian sesama makhluk penghuni bumi. Masa ini,
semua individu bergerak maju. Pergerakan tersebut bahkan membuat seseorang tak
melirik orang di sekitar yang sangat membutuhkan bantuan. Banyak orang yang
mampu menolong, namun hanya sedikit yang tergerak hatinya.
Demi mewujudkan sikap
empati tersebut, hadirlah beberapa lembaga kepedulian masyarakat. Lembaga
tersebut melahirkan relawan-relawan yang tangguh. Namun di antara
lembaga-lembaga tersebut, hanya Sekolah Relawan yang menjangkau seluruh aspek
permasalahan di Indonesia. Sekolah Relawan tidak pernah membedakan sasaran
kepeduliannya. Berikut ini lima contoh gerakan Sekolah Relawan sebagai solusi
permasalahan bangsa.
a. Seseorang
yang terserang sakit tentunya membutuhkan beberapa pertolongan. Mulai dari
pertolongan medis hingga psikologis. Pihak yang biasanya mendampingi si sakit
adalah kerabat dekat, baik itu keluarga maupun para sahabat.
Seringkali keluarga
pasien yang dituntut sedia di samping pasien mengabaikan kesehatan sendiri.
Persiapan menginap di rumah sakit, kebersihan diri, hingga jadwal makan yang
berantakan. Namun Sekolah Relawan hadir memberikan solusi. Kepedulian dipadu
kecerdasan tinggi menjadikan lembaga ini peka pada keluarga pasien di rumah
sakit. Mereka menyediakan makanan untuk keluarga pasien yang membutuhkan.
Makanan tersebut gratis dan boleh diambil oleh siapapun keluarga pasien yang
tengah mencari makanan. Selain
menyediakan makanan, para donatur juga boleh memberikan donasi pada foodbox tersebut.
Foodbox
yang berada di Rumah Sakit Evasari Jakarta (Postingan instagram Sekolah Relawan 7 Januari 2020)
b. Pada
penggalan terjemahan Q.S. Al Baqarah ayat 220 dikatakan sebagai berikut :
Mereka
menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah,
“Memperbaiki keadaan mereka adalah baik!” Dan jika kamu mempergauli mereka,
maka mereka adalah saudara-saudaramu....
Melalui terjemahan
tersebut, dapat kita ketahui bahwa anak yatim adalah ciptaan Allah Swt. yang
harus kita bahagiakan. Seruan pada ayat tersebut agar kita senantiasa berbuat
baik pada mereka. Sekolah Relawan telah mengamalkan ayat tersebut. Salah satu
contoh berbuat baik pada anak yatim dari tim tersebut adalah memberikan donasi
pada Alya, seorang anak yatim yang berprestasi. Cita-cita mulia Alya yang ingin
sekolah ke Kairo dan ingin mengajar di kampungnya setelah menimba ilmu
nantinya. Tim sekolah relawan pun mendukung mimpi tersebut dengan memberikan
hadiah untuk menyuntik semangat Alya dalam mengejar mimpi.
Foto Alya yang tengah menunjukkan bukti
prestasinya (Postingan instagram
Sekolah Relawan 29 November 2019)
c. Sejatinya,
setiap lembaga relawan akan beraksi pada kemanusiaan. Tidak seperti Sekolah
Relawan yang juga memikirkan makhluk ciptaan tuhan lainnya di muka bumi.
Kebakaran Hutan dan Lahan yang terjadi pada tahun 2019 lalu telah memakan
korban yang cukup banyak. Tidak hanya manusia, namun hewan yang menggantungkan
hidup pada hutan tersebut telah menjadi korban juga.
Pada postingan instagram Sekolah Relawan tanggal 17 September 2019, akun tersebut
telah menimbulkan belas kasihan pada setiap insan yang melihatnya. Terdapat dua
ekor ular dan seekor kura-kura yang tidak bernyawa pada foto tersebut. Sungguh
miris melihatnya. Hewan yang tidak berdaya untuk melarikan diri dari kobaran
api. Memang foto tersebut tidak menunjukkan bahwa hewan-hewan tersebut tewas
karena terpanggang api. Mungkin itu adalah akibat asap yang tidak lagi
memberikan udara segar untuk dihirup. Sehingga hewan-hewan tersebut
mengembuskan napas terakhirnya melalui asap karhutla. Bayangkan jika manusia
yang berada di posisi hewan-hewan tersebut? Apakah masih ada yang sanggup
membakar hutan lagi? Untuk itulah Sekolah Relawan memikirkan nasib penghuni
bumi lainnya melalui postingan tersebut.
Foto hewan-hewan
korban karhutla (Postingan instagram Sekolah
Relawan 17 September 2019)
d. Selain
beraksi secara fisik di lapangan, Sekolah Relawan juga beraksi pada psikologi.
Aksi tersebut berupa suntikan semangat agar orang-orang tidak mudah mengeluh.
Postingan tersebut menggambarkan seorang ibu disabilitas namun hidup mandiri
dan tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain.
Era sekarang, banyak
orang yang hidup dengan belas kasihan orang lain. Bahkan ia memiliki badan yang
kuat untuk melakukan berbagai aktivitas. Namun karena sifat malas tersebut,
jadilah mereka juga malas bekerja. Akibatnya mereka jadi hidup meminta-minta
pada orang lain. Terkadang diiringi tipuan bahwa dirinya tengah mengalami
sakit. Untuk itulah Sekolah Relawan memposting foto tersebut. Agar tidak ada
lagi generasi yang malas dan mudah mengeluh.
Foto seorang ibu disabilitas yang hidup
mandiri (Postingan instagram Sekolah
Relawan 11 November 2019)
e. Ada aksi, ada juga
hasil nyata. Hal tersebut yang ditunjukkan pada Sekolah Relawan. Ada tindak
lanjut dari wujud perlakuan mereka selama ini. Seorang balita yang diberikan
pertolongan. Tampak beberapa waktu kemudian balita tersebut telah sembuh dari
kebocoran jantung yang dideritanya.
Foto Dedek Bilal (sebelum dan sesudah
operasi) yang menderita kebocoran jantung (Postingan instagram Sekolah Relawan 10 Desember 2019)
Contoh
lima aksi kerelawanan tersebut patut diacungi jempol. Tidak ada alasan untuk
tidak mendukung Sekolah Relawan sebagai lembaga kerelawanan terbaik. Semoga
aksi baik tersebut dapat dipertahankan dan diteladani.





Komentar
Posting Komentar