Nyaris Seperempat Abad

 

Oleh : Geti Oktaria Pulungan

            Kenangan itu masih menari-nari di depan mata. Binar bahagia masih terpancar dari sepasang retinaku tatkala sebuah pesan tiba. Dentuman kabar dari kakak meluluhlantakkan suka cita yang merasuki tubuhku. Pesan itu merenggutku dari cakrawala perayaan, menyadarkan sebuah fakta yang harus kuhadapi. Aku harus bangun dari mimpi indah.

            “Bapak sakit.” Hanya itu isi pesan yang dikirimkan tatkala aku duduk bersama siswa di taman sekolah.

            Seketika jantungku berdetak lebih cepat. Bapak adalah sosok yang kucintai. Satu-satunya orang tua yang kumiliki setelah ibu pergi, tepatnya dua puluh tiga tahun silam. Bapak adalah jiwa yang selalu ingin melindungiku, bahkan ketika aku yakinkan dalam keadaan baik-baik saja. Bapak juga senantiasan maju penuh daya saat aku memiliki sebuah masalah.

            “Bapak sakit apa?” Tanyaku gelisah.

            Lama terdengar upaya bapak untuk berucap. Pertanyaanku hanya dijawab dengan helaan napas yang berlomba dengan rintihan, mengundang tetes bulir kristal dari sudut mataku.

            “Sakit perut,” ucap bapak akhirnya.

            “Sudah minum obat, Pak?” Aku semakin ingin muncul ke depan bapak dan melihat kondisi beliau.

            “Sudah, tapi tetap sakit. Sakit sekali.” Aku tidak tahu apakah bapak menangis atau tidak. Tapi kalimat itu memunculkan sebuah keputusan, bapak harus dirawat di rumah sakit dan aku harus segera pulang.

            “Pak...” Aku menyentuh lengan bapak hati-hati, seolah takut rasa sakit itu semakin bertambah. Kuurungkan untuk berucap, melihat tidur bapak yang pulas. Ada lingkaran hitam di sepasang netra bapak, pasti akibat sulitnya memejamkan mata saat rasa sakit mendera. Mungkin bapak tengah susah payah berjuang melawan sakit selama dua hari. Sayangnya aku tidak mengetahuinya. Bahkan ucapan ulang tahun dari bapak sangat kunanti. Tak kunjung tiba, aku tidak sedikitpun berfikir bahwa bapak sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. aku malah mengira bahwa isi pesan dari kakak adalah ucapan selamat ulang tahun.

            “Datang, Nak?” Rupanya suaraku mampu memecah lelapnya bapak.

            Aku menatap tubuh bapak yang semakin ringkih. Tidak ada yang berubah dari kasih sayang bapak. Hanya ada satu perubahan yang membuatku tidak suka, bapak yang semakin tua. Sudah pasti saat menua adalah alasan sebagian besar para orang tua untuk meninggalkan kehidupannya. Aku mungkin tidak sanggup menghadapinya. Menilik keadaan bapak saat ini, bukan tidak mungkin masa itu akan segera tiba.

            “Ya, Pak. Aku akan menemani bapak di sini.”

            Aku tidak sekadar berjanji. Ada sebuah perintah pada jiwaku untuk merawat bapak. Tapi mungkin hanya sampai bapak terlihat benar-benar siap untuk kutinggalkan.

            “Pak, aku balik ya?” Aku melihat kondisi bapak sudah semakin baik. Aku juga sudah libur kerja selama tiga hari. Lagipula, ada bibi yang merawat bapak di sini.

            “Harus pulang ya?” Sorot mata itu sangat tidak rela.

            “Ya, Pak. Aku takut ditegur sama yayasan.” Aku juga tidak ingin berpisah dengan bapak, tapi entah mau bagaimana lagi.

            Bapak termenung. Tidak mengiyakan, tidak menolak.

***

            Aku belum menikah, aku juga belum menjadi kebanggaan bagi bapak. Tapi kenapa harus seperti ini? Andai saja aku bisa membaca sebuah pertanda yang diisyaratkan bapak. Aku dapat melihat perubahan yang terjadi pada tubuh bapak, namun aku tidak peka. Jika sudah tahu, tentu kubatalkan niat. Aku tidak akan meninggalkan bapak barang sedetik pun.

            Tubuh itu terbungkus oleh kain putih. Wajah bapak tampak lebih bersih, ada cekungan yang dalam pada kelopak bawah mata. Aku memeluk tubuh bapak yang tak bergeming. Aku masih berharap bahwa ini mimpi buruk. Aku tidak pernah menyangka bahwa kado terpahit yang kualami kali ini adalah kepergian bapak untuk selamanya.

            “Kalian urus pernikahan putriku kelak, ya?” Begitu pesan bapak pada kerabat yang mengelilingi bapak menjelang sakratul maut.

            Aku seharusnya tidak pergi kala bapak tidak mengucapkan kalimat setuju waktu itu. Aku juga seharusnya menahan langkah saat hujan deras disertai angin kencang menghalau kepergianku. Tapi aku dengan kukuh menerobos hujan menuju angkutan umum. Membiarkan bapak menatap kepergianku dengan pandangan tak rela. Kini aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku telah menjadi yatim piatu pada usia dua puluh empat tahun. Aku sangat tidak suka hadiah ulang tahunku yang masih terhitung sekitar sepuluh hari yang lalu. Tapi bagaimanapun, itulah cara terbaik agar bapak tak lagi menahan sakit.

*Tamat*

Cerita ini adalah fiksi yang diikutsertakan dalam Lomba Blog Menulis Fiksi “Ulang Tahun” yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Semarang Gandjel Rel.


           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Petunjuk bagi Kekeliruan Orang Tua Masa Kini

Afiliasi Usia dan Sikasep pada Masa Covid-19

Prestasi Melejit, Kekerasan Menepi