Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020

Konsisten Merawat Wajah

Setiap perempuan sangat menyukai keindahan. Jika wajah mereka terawat dengan baik, sejatinya akan menimbulkan kepuasan tersendiri. Berhasil merawat wajah adalah impian setiap perempuan. Banyak sekali produk perawatan wajah yang muncul. Beragamnya merk yang berlomba untuk saling memasarkan produknya terkadang membuat kaun hawa bingung. Semua dirasa sempurna. Namun tidak semua produk tersebut harus dicoba satu-persatu. Ada produk yang cocok dengan kulit kita, ada yang menimbulkan iritasi. Untuk mencegah wajah terkena iritasi, berikut tips yang diberikan penulis. 1. Kenali jenis kulit Tidak semua kulit orang sama. Ada yang memiliki kulit normal, berminyak, atau kering. Sebelum memilih produk perawatan wajah, ada baiknya mengenal jenis kulit wajah masing-masing. Jika memiliki jenis kulit kering, pakailah produk untuk kulit kering. Jangan pakai produk untuk kulit berminyak karena akan membuat wajah kamu makin kering. 2. Tidak selamanya merk mahal bagus Banyak produk kecantikan yan...

Kuliner Wajib di Padangsidimpuan

Siapa yang tak suka makanan lezat? Saat berkunjung ke suatu daerah, pasti kita mencari makanan yang dapat diandalkan. Mencicipi makanan akan meninggalkan kesan tersendiri pada seseorang. Cita rasa yang benar-benar sesuai ekspektasi, atau hanya kepopuleran belaka. Nah, di sini penulis punya rekomendasi makanan yang wajib dicoba ketika berkunjung ke kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Sebuah kota yang dikenal dengan julukan kota salak ini mempunyai berbagai macam kuliner dengan rasa yang lezat. Mulai dari subuh hingga dini hari, kita tidak akan kesulitan mencari makanan di kota yang sejuk ini. Lima kuliner wajib berikut ini adalah berdasarkan pilihan penulis pribadi dan pengamatan terhadap sebagian orang yang bermukim di kota Padangsidimpuan. 1. Bubur Kacang Hijau Tante Jean Bubur kacang hijau ini sudah dapat kita cicipi saat Subuh hingga pukul sembilan pagi hari. Letaknya di depan air mancur (tepat di depan ruko barisan Anugerah Plaza). Makanan yang dijual terdiri dari bubur ka...

Petaka Terenggutnya Nyawa Dua Insan

Setiap individu ingin mendapatkan kesehatan yang layak. Tidak ada seorangpun yang rela memiliki riwayat penyakit pada sepanjang hidupnya. Namun terkadang penyakit-penyakit tersebut datang tanpa dapat terelakkan. Sebagai seorang manusia, kita hanya dapat berusaha mencegah. Mulai dari melakukan pola hidup sehat, mengikuti program jaminan kesehatan, hingga menimba pengetahuan sebanyak mungkin mengenai ilmu kesehatan.             Kesehatan adalah hal penting yang dimiliki setiap orang. Tua-muda, perempuan-lelaki, seluruh penghuni bumi wajib hidup sehat. Jika suatu daerah angka kematiannya tinggi, biasanya daerah tersebut memiliki tingkat kesehatan yang buruk. Mungkin adanya penyakit menular yang menyebabkan korban terus berjatuhan. Atau ketidakpedulian untuk menjaga kesehatan pada warganya. Serupa dengan kesehatan ibu hamil yang masih kurang mendapat perhatian. Di Indonesia pada tahun 2015, Angka Kematian Ibu (AKI) saat melahirk...

Kakak dan Celengan Ayam

Aku mempunyai seorang saudara perempuan, namanya kak Ani. Kakak orangnya baik dan sayang padaku. Saking sayangnya, aku sering dimarahi oleh kakak. Kakak sering kali memarahiku jika terlalu banyak membeli keperluan yang tidak perlu. Terkadang aku bertengkar dengan kakak karena aku tidak suka uangku diatur. Terserah aku mau mempergunakan uang untuk apa, yang penting aku tidak meminta uang kakak.             “Jangan banyak makan cokelat, nanti gigimu rusak” kakak menghampiriku yang tengah makan cokelat di teras rumah.             “Jangan banyak makan es krim, tidak baik” kata kakak pada suatu ketika melihatku menjilat es krim tiga rasa.             “Lebih baik uangnya kamu tabung” aku merengut mendengar omelan kakak yang lagi-lagi mengganggu kesenanganku mengemil. Untuk apa aku repot-repot menabung, kalau tidak punya ...

Becakku Tak Harus Punah

            Perjalananku usai. Kini aku menghirup udara segar kota kelahiran setelah empat bulan menimba ilmu di tanah orang. Menginjakkan kaki turun dari bus terasa ada yang berbeda. Tak lagi tampak becak-becak yang mangkal menanti penumpang di stasiun. Aku pun memilih berjalan ke pinggir jalan dengan membawa koper, ransel, dan sekotak oleh-oleh untuk keluarga tercinta.             Lama menanti, akhirnya sebuah becak kosong tampak mendekat. Segera kupanggil dengan hati lega.             “Saya aja Wak [1] ” aku mengangkat koper dan ransel ke dalam becak. Tak tega jika uak tersebut yang mengangkatnya.             Becak yang kunaiki tampak reyot, ditambah lagi beban barangku yang cukup banyak. Keriput tangan dengan kulit yang membungkus tulang menyiratkan hidu...